on Rabu, 31 Desember 2008

SYI’IR ERANG-ERANG SEKAR PANJANG : SEBUAH KARYA SASTRA JAWA PESISIR KARYA KYAI SIRAJ

(Suatu Tinjauan Eskatologis)

Dr. Muhammad Abdullah, M.A.

Fakultas Satra Universitas Diponegoro

Email : abu_nilami@yahoo.co.id.

ABSTRAK

Salah setunggaling karya budaya Jawi ingkang kalebet karya Sastra Jawa Pesisir inggih punika Sastra Syi’ir. Wonten ing lingkungan pesantren syi’ir kalebet satunggaling karya sastra pesantren ingkang taksih kathah ingkang remen maos utawi midhangetaken waosanipun. Bab punika saget dipun pahami sebab Syi’ir menika suraosipun kathah manfaatipun kagem sanak kadang santri ingkang remen kaliyan budaya Jawi pesisir punika. Karya sasra pesantren sanesipun ingkang ugi kathah ingkang remen ingih punika karya-karya kados (1) puji-pujian, (2) hagiography, (3) al-barzanji, (4) wirid, (5) hizb, lan ugi (6) wifiq. Hizb, wirid, lan wifiq menika satungaling karya sastra pesantren ingkang suraosipun ngemu bab mantra-mantra lan jampi-jampi kagem pengasihan lan kadigdayan kawula muda santri. Kadosto naskah-naskah bab masalah rohaniah (spiritual dimension of manuscript) ing lingkungan tradisi pesantren tradition, umpami (1) hizb nashar, (2) Hizb Nawawi, (3) Hiz Bahri, (4) Hizb Bukhari, lan (5)Hizb Ghazali.

Setunggaling Syi’ir ingkang kathah dipun waos ingih punika Syi’ir Erang-erang Sekar Panjang anggitanipun Kyai Siraj Payaman Magelang. Syi’ir aksara pegon menika isinipun mertelakaken bab kahananipun gesang lan siksa wonten akhirat. Umpaminipun Bab Rupane Ula (the existence of snake), Bab Melicete Kulit, Bab Mangsane Tunggeng, Bab Siksa Kubur, Bab Kamulyan ing Suwarga, lan, Bab Siksane Neraka. Sdaya bab sawau dipun terangaken anthi gamblang dipun awiti saking babagan siksa kubur gantos kahanan ngagesang wonten ing suwarga lan siksa neraka.

1. Sastra Syi’ir

Salah satu jenis karya Sastra Jawa Pesisir yang berkembang di lingkungan pondok pesantren adalah lahirnya apa yang disebut sebagai sastra pesantren. Yang dimaksud dengan istilah sastra pesantren adalah kumpulan karya sastra kitab (sastra keagamaan) karya sastra lisan, dan sastra syi’ir yang lahir dan berkembang di lingkungan pesantren, baik masalah menyangkut ajaran yang bersifat dogmatis-ritual maupun ajaran yang bersifat rasional-spiritual. Di antara ciri-ciri sastra pesantren itu adalah (1) sastra pesantren biasanya berbahasa Arab dan bertuliskan Arab, (2) adakalanya sastra pesantren itu berbahasa Jawa baru dengan tulisan Arab-pegon, (3) lahir dan berkembang lebih kurang awal abad ke-19-an, dan berkembang pesat sekitar abad ke-19 hingga abad ke 20-an, (4) sastra pesantren berupa tradisi lisan dan tradisi tulisan, yang berisi ajaran-ajaran moral, fiqh, tauhid, tasawuf, teologi, dan karya-karya syi’ir, nasyid dan lain-lain, (5) biasanya sastra pesantren dibaca dalam halaqah ilmiah, upacara ritual tertentu dan kadang dipertunjukkan sebagai performing-art, dan (6) sastra pesantren juga sedikit banyak terpengaruh sastra Timur Tengah, sastra Arab atau sastra Parsi ( lihat, Basuki, 1989; Abdullah, 1996; Thohir, 1997).

Salah satu aspek sastra pesantren adalah sastra keagamaan yang berisi doa-doa. Doa-doa yang sering dibaca di lingkungan pesantren itu adalah karya sastra yang termasuk kategori wirid, hizb, dan wifik. Doa-doa itu biasanya berupa doa ma’tsurat, yaitu doa-doa yang diajarkan Nabi SAW lewat berbagai hadis sahih. Jenis karya sastra ini dalam lingkungan akademis jarang diteliti orang. Hal ini karena karya sastra pesantren yang satu ini dianggap bagian dari rahasia “perdukunan” di lingkungan kyai dan pesantren tradisional pada umumnya.

Di antara karya sastra pesantren yang berupa karya sastra tulisan dan lisan adalah naskah Manakib Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, Naskah Al-Barzanji, Nadlaman, Nashar, Qasidah Burdah, Syi’ir, wirid, hizb, wifik dan rajah. Teks-teks sastra semacam itu adakalanya dibaca pada acara-acara ritual keagamaan, seperti upacara kelahiran, khitanan, dan hajatan lainnya. Dalam acara-acara ritual itu teks-teks karya sastra itu sering dibaca dalam pertunjukan yang diiringi musik rebana sebagai performing-art. Sebagai sarana komunikasi antara manusia dan Tuhannya, bacaan wirid dan doa-doa itu sekaligus berfungsi sebagai sarana ibadah dan ikhtiar mempertahankan diri dalam masyarakat agar tetap hidup (survive) dan menjaga, melestarikan eksistensinya menghadapi berbagai tantangan zaman. Kalau wirid dan hizb berisi tentang mantera dan doa, maka sastra syi’ir pesantren berupa puisi Jawa yang berisi ajaran moral, tuntunan ibadah, nasehat-nasehat untuk berumah tangga, dan kabar tentang hari akhirat.

Meskipun penelitian sastra Jawa sudah banyak dilakukan orang, namun tidak demikian halnya dengan karya sastra jenis Syi’ir. Selama ini jenis sastra Syi’ir kurang diminati para peneliti. Hal ini terbukti dari berbagai penelitian sastra Jawa yang dilakukan para ahli seperti Poerbatjaraka dan Tardjan Hadidjaja (1952), Padmosoekotjo (1960), Ras (1985), Zoetmulder (1983), Subalidinata (1996), Nielsmulder (1986), tidak membicarakan tentang sastra syi’ir. Anehnya lagi, dalam berbagai katalogus naskah Jawa seperti Katalogus Pigeaud (1973), Katalog Girardet (1983), dan Katalog Behrend (1993) tidak ditemukan catatan tentang syi’ir (Jawa : Singir). Penelitian akademis tentrang syi’ir pun masih bisa dihitung dengan jari tangan. Karya-karya itu misalnya skripsi S-1 (Muayyanah, 1996; Saifuddin, 1997), dan sebuah tesis S-2 (Muzakka, 1999).

Hasil inventarisasi yang dilakukan oleh Museum Pusat Jakarta tentang karya sastra syi’ir hanya meng-cover empat buah syi’ir (Soewignjo dan Wirawangsa, 1920 :318). Meskipun demikian, sampai saat ini tampaknya belum ada usaha penelitian lanjutan yang merekan sejumlah naskah syi’ir di kalangan pesantren. Kurang tahu persis, mengapa penelitian tentang syi’ir masih rendah peminatnya. Barangkali karena kurangnya sosialisasi dan publikasi karya syi’ir secara umum. Untuk menjawab persoalan ini, maka sangat dirasa penting penyunyingan dan penerbitan naskah syi’ir untuk konsumsi masyarakat akademis dan masyarakat pada umumnya.

Alasan yang kuat perlunya penelitian terhadap syi’ir ini adalah (1) naskah-naskah syi’ir belum banyak diungkap para filolog, hingga banyak yang terlantar, (2) dari aspek isinya, naskah syi’ir ini banyak berisi nasehat, pendidikan dan ajaran moral sehingga akan banyak manfaatnya untuk masyarakat modern sekarang ini yang mulai mengalami dekadensi moral dengan maraknya sikap permisif dan anarkhis, dan (3) untuk menyelamatkan aset pesantren yang bernilai tinggi berupa ajaran akhlak dan ajaran ruhaniyah (spiritual) yang tertuang dalam bentuk syi’ir.

Sebagaimana fungsi karya sastra yang lain, maka sastra syi’ir juga memiliki fungsi yang cukup signifikan, yaitu sebagai sarana pendidikan moral yang sangat bermanfaat bagi pembaca. Di samping itu, manfaat syi’ir dalam masyarakat santri adalah sebagai hiburan yang mengasikkan, sambil tetap menjaga zikir kepada Allah SWT. Dengan kata lain, menurut Horatius sebuah karya sastra yang baik akan mengandung nilai dulce et utile, maka syi’ir memilii nilai bermanfaat dan sekaligus menyenangkan. Hal ini mengisaratkan bahwa karya sastra haruslah dipahami dengan konteks sosial budayanya sebagai fungsi estetik sastra yang tidak lepas dari fungsi sosialnya (Teeuw, 1984: 183). Dengan demikian, sastra syi’ir pesantren sebagaimana yang berkembang di dalam komunitasnya, merupakan karya estetis yang berfungsi sosial kuat sebagai wahana komunikasi dan bersosialisasi tentang nilai-nilai Islam.

Di samping naskah-naskah berisi doa seperti hizb, wirid, dan wifik, dalam sastra pesantren berkembang juga karya-karya sastra lokal yang berupa syi’ir. Dalam tradisi sastra Jawa syi’ir termasuk genre sastra yang tidak banyak menarik para peneliti, baik peneliti sastra maupun para filolog, padahal dari segi kuantitasnya karya syi’ir ini cukup besar jumlahnya. Misalnya Syi’ir Erang-erang Skar Panjang, Syi’ir Laki Rabi, Syi’ir Siti Fatimah, Syi’ir Paras Rasul, Syi’ir Dagang, Syi’ir Tajwij, Syi’ir Ngudi Susila dan lain-lain.

2. Syi’ir Erang-erang Sekar Panjang

Di antara naskah Syi’ir yang sering dibaca di kalangan santri adalah Syi’ir Erang-erang Sekar Panjang. Syi’ir Erang-erang ini ditulis oleh Kyai Muhammad Siraj dari Payaman Magelang ditulis tahun 1822 M. Naskah Syi’ir Erang-erang sebagaimana syi’ir-syi’ir lainya ditulis dalam bahasa Jawa, dengan tulisan huruf Arab-Jawa (pegon) dengan tulisan dalam ukuran kecil. Naskah Syi’ir yang terdiri atas 24 halaman ini berbentuk puisi yang terbagi ke dalam beberapa subjudul (bab). Bab pertama berjudul Bab Rupane Ula (Bab Wujudnya Ular), kedua Bab Mlicete Kulit (Bab Terkelupasnya Kulit), ketiga Bab Mangsane Tunggeng (Bab Musimnya Kala Jengking), dan seterusnya.

Secara garis besar Naskah ini berisi nasehat keagamaan, terutama nasehat untuk menjaga akidah Islamiyah, menjalankan amal saleh, janji Allah di bagi ahli ibadah, dan tentang eksistensi hari akhir, khususnya siksaan di neraka dan pahala di surga. Di sinilah Kyai Siraj ingin menjadikan agama benar-benar sebagai nasihat bagi manusia, sebagaimana sabda nabi SAW, “ad-dinu na-sihah” (Agama, Islam, itu sesungguhnya sebuah nasihat yang mulia). Dengan kata lain, naskah Syi’ir Erang-erang ini menceritakan kehidupan sesudah mati, alam akhirat, baik siksaan di alam kubur, siksaan di neraka, bahagianya tinggal di surga, janji Allah bagi yang melanggar hukum-hukumnya, sampai kisah pisahnya harta kekayaan dengan si pemiliknya. Kisah ini diceritakan demikian detil, sehingga setiap orang yang membaca teks ini seakan-akan terbawa ke alam akhirat. Alam keabadian yang memberikan tempat bagi manusia untuk memetik buah perbuatannya waktu mengarungi hidup di dunia. Orang-orang yang beramal baik akan mendapatkan balasan surga jannatun na’im, sedang orang yang ingkar kepada kebenaran, akan mendapat tempat pembalasan di neraka.

Penelitian ini berusaha menjawab masalah-masalah sebagai berikut :

2.1 Secara kualitas maupun kuantitas karya sastra Jawa pesantren, seperti jenis Syi’ir sesungguhnya cukup signifikan perkembangannya. Namun, mengapa karya sastra dalam bentuk syi’ir, khususnya naskah syi’ir Erang-erang Sekar Panjang belum diteliti secara akademis? Bukankah naskah-naskah seperti itu justru menarik untuk disunting teksnya?

2.2 Bagaimana sesungguhnya doktrin eskatologis (kehidupan akhirat) yang terdapat dalam teks Syi’ir Erang-erang Sekar Panjang. Artinya, bagaimana konsep kehidupan sesudah mati menurut Syi’ir tersebut? Adakah relevansi nilai-nilai eskatologis tersebut dengan kehidupan masa kini ?

2.3 Bagaimana sebetulnya secara lengkap isi teks syi’ir Erang-erang Sekar Panjang? Apa sebetulnya isi cerita eskatologis yang terdapat dalam naskah Erang-erang Sekar Panjang itu?

2.4 Mengapa aspek-aspek eskatologis dalam teks Syi’ir Erang-erang ini sangat menonjol ? Apakah maksud yang implisit dari pesan-pesan eskatologi dalam teks syi’ir tersebut?

Alasan yang kuat perlunya penelitian terhadap syi’ir ini adalah (1) naskah-naskah syi’ir belum banyak diungkap para filolog, hingga banyak yang terlantar, (2) dari aspek isinya, baskah syi’ir ini banyak berisi nasehat, pendidikan dan ajaran moral sehingga akan banyak manfaatnya untuk masyarakat modern sekarang ini yang mulai mengalami dekadensi moral dengan maraknya sikap permisif dan anarkhis, dan (3) untuk menyelamatkan aset pesantren yang bernilai tinggi berupa ajaran akhlak dan ajaran ruhaniyah (spiritual) yang tertuang dalam bentuk syi’ir.

Sebagaimana fungsi karya sastra yang lain, maka sastra syi’ir juga memiliki fungsi yang cukup signifikan, yaitu sebagai sarana pendidikan moral yang sangat bermanfaat bagi pembaca. Di samping itu, manfaat syi’ir dalam masyarakat santri adalah sebagai hiburan yang mengasikkan, sambil tetap menjaga zikir kepada Allah SWT. Dengan kata lain, menurut Horatius sebuah karya sastra yang baik akan mengandung nilai dulce et utile, maka syi’ir memilii nilai bermanfaat dan sekaligus menyenangkan. Hal ini mengisaratkan bahwa karya sastra haruslah dipahami dengan konteks sosial budayanya sebagai fungsi estetik sastra yang tidak lepas dari fungsi sosialnya (Teeuw, 1984: 183). Dengan demikian, sastra syi’ir pesantren sebagaimana yang berkembang di dalam komunitasnya, merupakan karya estetis yang berfungsi sosial kuat sebagai wahana komunikasi dan bersosialisasi tentang nilai-nilai Islam.

Untuk menunjang masukan informasi data, maka penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode; (1) metode filologi sebagai metode penggarapan teks yang akan melahirkan hasil suntingan teks, (2) metode Tinjauan Pustaka, untuk analisis isi teks yang mengungkap makna eskatologis dalam syi’ir Erang-erang, dan (3) metode penelitian lapangan, untuk mengetahui praktek pembacaan naskah.

Metode Studi Pustaka dipakai untuk menganalisis isi teks Erang-erang Sekar Panjang, terutama yang berisi aspek eskatologisnya. Pembahasan tentang aspek eskatologi akan diperkaya dengan berbagai referensi, yang mengacu kepada filsafat eskatologi dan doktrin eskatologis dalam agama Islam. Hal ini dirasa penting untuk menambah cakrawala baru dalam telaah isi teksnya.

Untuk mendapatkan gambaran model pembacaan teks, maka penting dilakukan studi lapangan, mengadakan observasi dan pengamatan langsung tentang praktek pembacaan syi’ir. Metode yang digunakan adalah metode raport research. Yaitu peneliti berusaha terlibat langsung dalam kehidupan sehari-hari masyarakat pembacanya dan meneliti bagaimana proses estetika pembacaan dalam masyarakat pedukungnya berlangsung. Tinjauan lapangan dilakukan pondok pesantren di Kaliwungu Kendal dan di Pondok Pesantren Payaman Kabupaten Magelang.

3. Aspek Eskatologi Syi’ir Erang-erang Sekar Panjang

Eskatology adalah alam kehidupan manusia sesudah mati, atau dengan bahasa agama disebut kehidupan akhirat. Kematian adalah awal dari kehidupan yang sesunguhnya. Jika kalangan filsuf klasik seperti Karl Marx (1818-1883), Sigmund Freud (1856-1939), Jean-Paul Sartre (1905-1980) memaknai kematian hanya dengan pendekatan rasionalitas-ilmiah, maka mereka akan ‘gagal’ memaknai dan memberkan definisi kematian yang sesunguhnya. Apalagi para filsuf itu hanya berhenti pada kesimpulan bahwa kematian adalah akhir dari segalanya (Sibawaihi, 2004:77).

Karena itu bagi kaum posititifistik itu tidak ada konsep kehidupan akhirat, atau hidup sesudah mati. Berbeda dengan kaum yang beriman, karena kehidupan akhirat bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir atau hari kiyamat (lihat QS Al-Baqarah 2 : 8), diyakini benar-benar ada. Bahkan diyakni sebagai kehidupan yang sebenarnya bagi manusia. Itulah sebabnya Al-Ghazali mengatakan bahwa setelah kematian yang keda (tercerabutnya nyawa dari badan), akan ada lagi kehidupan yang ketiga, yang merupakan kehidupan abadi, yaitu kehidupan akhirat. Kematian yang kedua bagi Al-Ghazali adalah merupakan “Kiamat Kecil” (al-Qiyamah As-Sughra), sebagaimana hadis Nabi SAW, “Siapa yang meninggal dunia, maka kiamatnya telah bangkit” (Al-Ghazali dalam Sibawaihi, 2004: 79).

Karena kehidupan di dunia ini hanyalah kehidupan semu atau nisbi. Kehidupan akhirat itulah tempat disampaikan pembalasan bagi amal perbuatan manusia waktu di dunia. Jika amal perbuatannya baik (shaleh), maka mereka akan dibalas dengan kehidupan lebih baik di akhirat, yaitu surga sebagai pemabalasannya. Sebaliknya jika manusia beramal jahat (sayyiah), maka balasan mereka di akhirat adalah tempat pejara, yaitu neraka jahannam. Itulah sebabnya hari akhirat itu juga disebut hari pembalasan. Maka “Barangsiapa yang beramal kebaikan sebesar zarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya, dan barang siapa mengerjakan amal kejahatan sebesar zarrah pun maka niscaya mereka akan melihat balasannya pula (QS. Zalzalah 99 : 7-8).

Dalam teologi Islam klasik diajarkan bahwa sesungguhnya siksa kubur sungguh-sunguh adanya. Sebagai contoh adanya siksa di alam kubur (alam barzah) yang akan dirasakan manusia oleh orang-orang yang waktu di dunia banyak berbuat dosa. Mereka akan ditanya oleh malaikat penjaga kubur, yaitu Mungkar dan Nakir. Hal ini jga tersebut dalam naskah Durrat Al-Faraid karya terjemahan Ar-Raniri :

Yakni kita I’tiqadkan bahwasanya ditanyai malaikat yang bernama Mungkar dan Nakir itu sebenarnya seperti firman Allah ta’ala Yu£abitu All?hu al-la??na ?man? bil qauli al-£?biti.Yakni ditetapkan Allah maka mereka itu tetaplah percaya akan Allah ta’ala dengan kata yang tetap bahwa ayat ini diturunkan Allah ta’ala pada menyatakan siksa kubur. Apabila ditanyakan segala yang mati dalam kuburnya, maka datang dua orang malaikat hitam warna keduanya dan biru matanya bernama Mungkar dan Nakir. Maka ditanyai oleh keduanya mayit itu, man rabbuka wam? d?nuka wam? Nabiyyuka. Artinnya, siapa Tuhanmu, dan apa agamamu, dan siapa Nabimu. Maka dijawab mayit itu, Allah rabb?, wad?nul-Isl?m wa Nabi Muhammad alaihissalam jua. Inilah kata yang tetap yang tersebut dalam kitab itu. Da sabda Nabi ‘alaihissal?m, alqabru ruhatan min riya«il jannati au hafratun an-nirani. Yakni kubur itu suatu kebun daripada kebun surga atau liyang daripada liyang neraka. Adapun soal siksanya itu adalah ia pada segala yang mati karam dalam air atau dimakan binatang buas dalam pertanya yang disalakannya. Dan jikalau tiada kita ketahui segala ‘ajaib perintahnya dan indah-indah hukumnya (naskah A halaman 61).

Dalam kitab Asr?r Al-Ins?n F? MA’rifa al-R?h wa Ar-Ra¥m?n karya Syeikh Nurudin Ar-Raniri (lihat, disertasi Tudjimah, 1961) dijelaskan bahwa qalb, fuad, dan ruh sesungguhnya muaranya adalah ruh. Jadi ruh yang merupakan celupan dari Allah SWT (sibghoh Allah) itu sebenarnya yang dapat diajak bersilaturahmi dengan baik. Silaturahmi ruhaniah itu dapat terjadi pada orang yang masih hidup maupun orang yang telah mati.

Dalam diri manusia sesungguhnya tergabung dua alam sekaligus, yaitu alam nasut dan alam malakut. Untuk menyederhanakan, alam nasut adalah alam material kita, yaitu alam yang bisa kita rasakan dan alam yang bisa kita persepsi dengan alat-alat indera kita, seperti jasad kita, anggota badan kita. Sedang ruh kita termasuk ke dalam alam malakut. Semakin tertarik manusia dengan alam nasut, maka makin sibuk dia dengan materi duniawi. Makin tertarik dia dengan alam material, makin lepas dia dengan alam malakut. Maka orang-orang yang sedang melakukan silaturahmi, sedang ziarah, tubuh-tubuh mereka berada di alam nasut, tetapi ruhnya berada di alam malakut. Artinya, kalau kita mengadakan silaturahmi, halal bihalal, ziarah, atau syawalan, ruh kita akan bersilaturahmi dengan ruh kaum muslim lainnya.

Dalam prakteknya, bisa jadi seseorang bersilaturahmi secara nyata di alam nasut, tetapi di alam malakut ruhnya tidak bersilaturahmi. Sebaliknya, boleh jadi ada orang yang tidak pernah berjumpa secara fisikal, tetapi di antara mereka ada jalinan silaturahmi yang sangat kental seperti sudah diperkenalkan jauh sebelumnya. Contohnya, Kalau kita mengadakan acara halal bihalal, kemudian kita bersalam-salaman. Yang satu mengatakan, “Mohon maaf lahir dan batin”. Kemudian yang lain menjawab, “Sama-sama mohon maaf lahir dan batin”. Boleh jadi di dalam hati masing-masing masih tersimpan rasa dendam, dan tidak mau memaafkan orang itu. Sehingga seringkali orang bersilaturahim di alam nasut, tapi di alam malakut ruhnya tidak ikut bersilaturahim.

Di alam malakut ada dua kafilah ruhaniah. Satu kafilah ruhani yang sedang bergerak menuju ke Allah SWT, dan yang satu lagi kafilah yang menjauhi Allah SWT. Pendeknya, satu kafilah yang sedang meninggalkan tanah liat menuju Allah SWT, dan satu lagi kafilah ruhani yang meninggalkan cahaya Allah SWT menuju kegelapan yang gelap gulita. Nah, essensi syawalan adalah perjalanan kafilah ruhaniah yang sedang bergerak bersilaturahmi unsure tanah liat melewati ruh-ruh orang suci menuju kepada keridhaan Allah SWT.

Al-kisah ada sebuah riwayat yang dikutip Imam Bukhari, bahwa pernah ada beberapa orang sahabat Nabi yang mendatangani suatu tempat, tetapi mereka tidak menduga bahwa tempat itu adalah kuburan. Kemudian mereka hamparkan jubah untuk tempat istirahat di tempat itu. Tiba-tiba salah seorang di antara mereka mendengar ada suara orang sedang membaca surah Al-Kahfi (kalau tidak salah). Dia terkejut, dan ia mendengarkan bacaan itu sampai selesai. Kemudian dia sampaikan peristiwa itu kepada Rasulullah SAW. Lalu kata Rasulullah SAW, “Dia sedang membaca sesuatu yang bisa mencegahnya dari azab kubur”. Nabi tidak mengatakan bahwa hal itu adalah tahayyul, bid’ah atau musyrik. Justru Nabi malah membenarkannya. Hal ini merupakan legitimasi dari Nabi SAW, bahwa ruh orang-orang suci itu masih tetap beribadah bahkan di alam barzah sekalipun. Hubungkanlah silaturahmi kita dengan kafilah ruhani orang-orang suci supaya kita diperkuat, supaya mereka membantu kita dengan doa-doa mustajab mereka.

Nah, ketika kita berziarah ke makam para ulama dan kyai yang suci, kita harus bayangkan bahwa di balik kubur itu ada rombongan ruh-ruh orang suci. Kita hanya bisa membayangkan, karena kita di alam nasut. Bayangkan bahwa di alam malakut itu ada rombongan ruhani orang-orang suci, termasuk yang masih hidup. Semua bergabung ke dalam satu kafilah. Nabi SAW pernah bersabda, “Para ruh di alam malakut itu seperti tentara yang dipertemukan. Kalau mereka saling mengenal, maka mereka saling berpelukan. Tetapi kalau mereka tidak saling mengenal, mereka saling bertengkar di alam ruh itu” (lihat, Jalaluddin Rakhmat dalam Renungan Sufistik, 1994: 87).

Oleh karena itu, agar ruh kita dapat bergabung dengan ruh-ruh orang yang suci, maka ucapkanlah salam kepada mereka secara khusus, dan salamnya langsung tidak dititipkan. Misalnya, Assal?mu’alaikum y? ahlil kub?r. Karena itu, ketika salat kita diperintahkan agar kita ucapkan salam kepada pimpinan tertinggi kafilah itu, yaitu Nabi Muhammad SAW, Assal?mu’alaika ayyuhannabiyyu wa rahmatull?hi wa barak?tuh. Maka kita tidak mengucapkan salam kepada Nabi itu dengan assal?mu’alaihi.

Dalam teks syi’ir Erang-erang Sekar Panjang, balasan perbuatan manusia itu digambarkan dengan ancaman hukuman berat di neraka bagi yang mengingkari perintahn Tuhan, dan balasan indah di surga bagi manusia yang beramal kebaktian waktu di dunia. Hal itu tertulis dalam bait Bab Rupane Ula untuk memberikan hukuman dan siksaan bagi orang-orang kafir yang tak beriman.

Gedene ula iku, padha karo glugu aren

Nggane ngerah ula iku, tanpa nganggo leren-leren

Anane ula iku, duwe rupa amedeni

Endhas buthak nganggo jamang, pating selingkap anggembili

Anane gembiline kanggo wadahe upase

Upase kanggo nyembur, kanggo nambahi siksane

Sak wise dha disembur, banjur abuh nggegilani

Sak wuse padha abuh, mecah nanah njejelihi

Gusti Allah amaringi udan lenga luwih panas

Panase lenga iku, ngungkuli katimbang upas

Sak wise kena kulit mangka nuli enggal melicet,

Melicete kulit iku seka sirah tekan kencet.

(Erang-erang halaman 1-2).

Sebaliknya, bagi ahli ibadah dan ahli kebaikan waktu di dunia, mereka akan mendapat balasan di hari akhirat bdengan tempat balasan yang indah di surga. Digambarkan bdalam Syi’ir Erang-erang bahwa kehidupan di surga penuh dengan kesenangan dan kenikmatan. Misalnya mereka dijamu dengan berbagai makanan enak dan bidadari yang cantik-cantik. Digambarkan dalam Bab Besane Widadari,

Besane widadari kanggo seneng para priya

Senenge para priya kanggo liru susah dunya

Besane sang widadari edine tan kira-kira

Supayane bisa banget bungahe sang para priya (Erang-erang halaman 10).

Perhatikan ketipan teks yang menggambarkan kebahagiaan kehidupan surga di bawah ini : Bab Mulyane Suwarga

Lamun sira bisa mekak, ing karepe hawanira

Mangka temen sira iku manggon taman suwarga

Rasane ana suwarga luwih banget nggone mulya

Sandhang pangan ora kurang, ora mati ora nelangsa

Olehe manggon suwarga tanpa nganggo wewangenan

Miturut dhawuhe Allah kkanmg kesebut ana Quran

Suwarga ora ana sak liyane kasenengan

Saben wektu ora ana sak liyane pengantenan

Sak wuse pengantenan, nuli padha pepelesiran

Nggone pelesir sak karepe, lamun nunggang tanpa sedwa

Gusti Allah nggone cawis kanggo seneng kawulane

Aja ngasi kang diseja, endadekake nyang gelane

Terjemahan :

Bab Kebahagiaan di Surga

Hendaklah kalian semua perhatikan waktu mencari kebahagiaan

Untuk meraih kesenangan setelah akhir zaman

Tidak akan kalian itu bisa senang dan bisa bahagia

Jika kalian tidak mau mengikuti perintah Tuhan yang Kuasa

Jika saudara sekalian dapat menahan atas semua hawa nafsumu

Maka sungguh kalian akan dapat tinggal di taman surga

Rasanya hidup di surga sungguh sangat membahagiakanmu

Pakaian dan makanan tidak pernah kurang, tidak mati dan tidak sengsara

Maka tingal di surga itu tanpa pakai perhitungan

Menurut perintah Allah yang disebutkan dalam kitab Al-Quran

Di surga tiada kesedihan, selain hanya kesenangan

Setiap waktu tiada lain, selain menjadi temanten baru

Setelah menjadi penganten baru, maka kemudian mereka bertamasya

Mereka akan bertamsya sekehendaknya, mengggunakan endaraan tanpa sewa

Gusti Allah memang menyediakan semuanya untuk kebahagiaan hamba-Nya

Jangan sampai yang dituju menjadikan penyesalan di kelak kemudian hari

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Muhammad, 1992. Kesenian Blantenan : Kesenian Tradisional Dalam

Tradisi Pesantren di Kaliwungu Kendal. Semarang : Laporan Penelitian Lemlit UNDIP.

_________________, 1996. ” Puji-pujian : Tradisi Lisan Dalam sastra Pesantren”

dalam WARTA ATL. Jakarta : Jurnal ATL.

Abdurrahman As-Suyuti, Jalaluddin, th Ar-Rahmah Fiththib wal Hikmah.

Ahmad, Abul Abbas, bin Ali Al-Buni, th Mamba’u Ushulul Hikmah.

Al-Ghazali, th Al-Munqid Minadzdzalal

____________, (tanpa tahun) . Al-Aufaq.

Al-Muthawwi, Jasim Muhammad. 2007. Hidup Sesudah Mati. Solo : Pustaka

Arafah.

Azam, Abdullah, 1985. Ayatu Ar-Rahman Fi Jihad Al-Afghan. Kuala Lumpur :

Mathb’ah Kazhim Dubai UEA.

Basuki, Anhari, 1988. “Sastra Pesantren” dalam Lembaran Sastra. Semarang :

Fakultas Sastra UNDIP.

Hawwa, Said, 1996. Jalan Ruhani. Bandung : Mizan.

Mundzir, Muhammad Nadzir, (tanpa th). Singir Tajwij: Tanwiru ‘l-Qari’. Surabaya :

Al-Ashriyah.

Muzakka, Moh. 1994. “Singiran : Sebuah Tradidsi Sastra Pesantren” dalam

Hayam Wuruk No. 2 Th. IX.

Padmosoekotjo, S. 1960. Ngengrengan Kasusastraan Djawa. Yogyakarta :

Hien Hoo sing.

Qurdi, Imam, (tanpa tahun). Tanwirul Qulub.

Singir Paras nabi. (tanpa th). Surabaya : Maktabah Said bin Nubhan wa Auladihi.

Soewignyo, R. Poerwo dan R. Wirawangsa. 1920. Pratelan Kawontenaning Boekoe-boekoe Basa Djawi Tjitakaningkan Kasimpen Wonten ing Gedong Boekoe (Museum) ing Pasimpenan Bibliotheek XXXIII. Drukkerij Ruygrik and Co.

Sibawaihi, 2004. Eskatologi Al-Ghazali dan Fazlur Rahman : Studi Komparatif Epistemologi Klasik-Kontemporer. Yogyakarta : Penerbit Islamika.

Siraj, (anpa tahun). Syi’ir Erang-erang Sekar Panjang.

Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu sastra : Pengantar Teori Sastra. Jakarta : Pustaka

Jaya.

Tim IAIN, 1993. Ensiklopedi Islam. Jakarta : PT Ichtiar Baru van Hoeve.

Thohir, Mudjahirin, 1997. Inventarisasi Sastra Pesantren di Kaliwungu Kendal.

Semarang : Laporan Hasil Penelitian Lemlit UNDIP.

0 komentar:

Posting Komentar